24 December 2013

Jeprat Jepret Tonggeret (Cicada)

Tanggal: 10 Desember 2013
Kamera: Canon IXY DIGITAL 510 IS
Lokasi: Jonggol, Jawa Barat.


Tonggeret alias Gareng alias Cicada


Pada suatu sore, ketika sedang membakar sampah sambil mengajak bermain kedua anakku di kebun yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah, aku tiba-tiba mendengar ada suara dari pepohonan yang ada di kebun tersebut. Suara yang terdengar cukup keras dan nyaring tersebut berasal dari sejenis serangga yang aku kenal dengan nama tonggeret. Sementara istriku yang berasal dari Jawa Timur menyebutnya dengan nama gareng.

Pada awalnya aku hanya mendengarkan saja suara nyaring tersebut dan tidak berusaha untuk mencari sumbernya karena mengira kalau sang serangganya, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan nama cicada itu berada di dahan pohon yang cukup tinggi. Namun setelah aktifitasku untuk membakar sampah telah selesai, sementara suara tersebut masih saja terdengar, akhirnya aku iseng-iseng berusaha untuk mencari sumbernya. Dan ternyata aku berhasil menemukannya.

Tidak seperti dugaanku sebelumnya, ternyata tonggeret yang sedang bersuara itu sedang hinggap di dahan yang letaknya cukup rendah. Betapa senangnya aku melihat hal itu. Segera saja aku mengeluarkan kamera dari saku celana dan berusaha untuk memotretnya. Sayangnya usaha itu tidak berhasil karena sang tonggeret, yang saat itu berada di tempat yang cukup teduh, tiba-tiba terbang ketika aku sedang mendekat dan mencari posisi yang baik untuk bisa memotretnya. Untung saja ia kemudian hinggap kembali di tempat yang tidak begitu jauh dari lokasi tempat hinggapnya semula. Istriku yang berada tidak jauh dariku lalu menyarankan agar aku menangkapnya saja dan membawanya ke tempat yang lebih terang agar lebih mudah untuk memotretnya.

Dengan ragu-ragu, karena aku mengira pasti akan sulit untuk bisa menangkapnya, akhirnya aku pun mendekatinya lagi dan mencoba untuk menangkapnya dengan bantuan sebuah gelas plastik yang aku temukan tidak jauh dari tempatku berdiri. Perlahan-lahan aku pun mulai mendekatinya dan…hup…horee…ternyata aku langsung berhasil menangkapnya ya…senangnya!!! Akhirnya tonggeret itu pun aku bawa pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, dengan hati-hati aku membuka tutup gelas plastik yang aku jadikan sebagai tempat untuk membawa sang tonggeret dari kebun ke rumah dan berusaha untuk memotretnya. Akhirnya aku berhasil juga mendapatkan beberapa foto dari tonggeret tersebut sebelum akhirnya serangga itu terbang kabur entah kemana ketika aku berusaha untuk menaruhnya di telapak tanganku.


Tonggeret alias Gareng alias Cicada
Tonggeret pertama yang berhasil aku tangkap di kebun. Suaranya yang nyaring selalu membuatku penasaran untuk dapat melihat seperti apa bentuk serangganya.


Setelah mencari melalui internet dan mendapatkan beberapa informasi, akhirnya aku jadi tahu bahwa ternyata tonggeret yang berhasil aku tangkap itu adalah tonggeret jantan karena hanya tonggeret jantan saja lah yang dapat menghasilkan suara yang nyaring tersebut. Suara itu dihasilkan oleh sepasang membran tipis yang disebut timbal (tymbals) yang berada di bagian perutnya. Biasanya tonggeret ini akan mulai bersuara pada saat cuaca sedang cerah seperti pada saat aku membakar sampah saat itu, dimana pada hari-hari sebelumnya cuacanya selalu mendung dan atau turun hujan. Selain dapat menghasilkan suara yang nyaring, tonggeret jantan juga mempunyai perut yang lebih bulat dibandingkan dengan perut pada tonggeret betina yang lebih langsing seperti pensil.

Tonggeret ternyata merupakan salah satu serangga yang dapat menhasilkan suara yang sangat keras hingga dapat mencapai 120 dB pada beberapa jenis. Kerasnya suara yang dihasilkan tersebut dapat membuat telingga manusia mengalami kerusakan permanen seandainya saja sang tonggeret bersuara di dekat lubang telinga manusia. Tonggeret jantan sendiri dapat menonaktifkan organ pendengarannya, yang disebut timpana (tympana), saat ia sedang mengeluarkan suaranya.

Yang cukup menarik adalah ternyata masa hidup dari tonggeret ini sebagian besar dihabiskannya dalam bentuk nimfa atau serangga muda di dalam tanah. Saat menjadi serangga dewasa atau imago, tonggeret dewasa hanya dapat hidup selama beberapa minggu sampai beberapa bulan saja, padahal siklus hidupnya biasanya berlangsung antara 2-5 tahun. Bahkan ada jenis tonggeret yang berasal dari Amerika Utara yang mempunyai siklus hidup sampai 13 atau 17 tahun. Wah…benar-benar suatu siklus hidup yang sangat panjang ya dibandingkan dengan jenis serangga lainnya. Saat menjadi nimfa, tonggeret muda akan memenuhi kebutuhan nutrisinya dengan cara menghisap cairan dari akar pohon.


Klasifikasi ilmiah Tonggeret

Nama: Cicada, Tonggeret, Gareng

Domain Eukaryota - organisme dengan sel kompleks
Kingdom Animalia - hewan
Subkingdom Bilateria - mempunyai simetri bilateral
Branch Protostomia
Infrakingdom Ecdysozoa - berganti kulit
Superphylum Panarthropoda
Phylum Arthropoda - hewan berbuku-buku
Subphylum Mandibulata - mempunyai rahang bawah
Infraphylum Atelocerata - bernafas dengan corong hawa
Superclass Panhexapoda
Epiclass Hexapoda - berkaki enam
Class Insecta - serangga
Subclass Dicondylia - rahangnya dapat bergerak searah
Infraclass Pterygota - serangga bersayap
Division Neoptera - sayapnya dapat terlipat ke perut
Subdivision Paraneoptera
Superorder Condylognatha
Order Hemiptera - kepik sejati
Suborder Auchenorrhyncha - cicada, hopper
Infraorder Cicadomorpha
Superfamily Cicadoidea
Family Cicadidae Westwood, 1840 – cicada


Referensi:

  • Systema Naturae 2000, Family Cicadidae (sn2000.taxonomy.nl/Main/Classification/19287.htm)
  • Wikipedia, Cicada (en.wikipedia.org/wiki/Cicada)
  • Cicada Mania, Cicada FAQs (www.cicadamania.com/faq.html)

No comments:

Post a Comment