31 March 2013

Jeprat jepret ngengat: Attacus atlas - Atlas moth - Kupu-kupu gajah

kupu-kupu gajah - Attacus atlas - Atlas moth

Ulat keket
Tanggal: 22 Maret 2009
Kamera: HP Sony Ericsson k800i

Lokasi: Desa Sukasirna, Jonggol, Bogor Timur

Pada awalnya, Papa (almarhum) membeli sebidang kebun di Jonggol untuk dijadikan sebagai tempat beristirahat untuk melepas stress dari kesibukan kerja dan rutinitas sehari-hari di Jakarta. Untuk tempat berteduh, Papa membeli sebuah kandang sapi yang sudah tidak terpakai dan memindahkannya ke kebun sehingga jadilah sebuah saung dengan 2 bangku panjang dari bambu untuk tempat duduk-duduknya (pada akhirnya nanti, saung tersebut dibongkar dan diganti dengan sebuah rumah kecil dengan 1 kamar).

Pada suatu hari minggu, Papa mengajak kami sekeluarga untuk bersantai di kebun di Jonggol. Singkat cerita, setelah sampai di kebun dan beristirahat sejenak, aku lalu mulai melihat-lihat ke sekeliling kebun sementara istri masih duduk-duduk di saung.

Ketika sedang asik melihat ke kebun sebelah, aku kaget ketika sadar bahwa di depanku ada seekor ulat yang ukurannya cukup besar yang sedang makan daun pohon kecapi. Pohon kecapi itu masih kecil dan tumbuh dipinggir pagar pembatas kebun ya.

Karena melihat bentuknya yang cukup ‘wah’, aku diam saja dan tidak memberi tahu istri yang sedang santai tidur-tiduran di saung dekat tempatku berdiri. Tapi rupanya istri tertarik karena melihat aku sedang asik memotret dengan kamera hape.

Akhirnya istri pun mendekatiku. Namun begitu tahu apa yang sedang aku foto, ia langsung kembali menjauh. Tapi rupanya ia penasaran juga dan pelan-pelan mulai mendekatiku lagi.

“Lama-lama kalau dilihatin tidak jadi geli (jijik) lagi ya”, ujarnya. “La iyalah”, ujarku sambil tersenyum. “Lama-lama kan jadi terbiasa”, lanjutku lagi.

Akhirnya istri jadi tambah mendekat dan terus memperhatikan apa yang sedang aku lakukan. Aku hanya berharap semoga ia nanti tidak mimpi ulat lagi. Istri pernah memimpikan ulat gara-gara melihat foto-foto ulat di hapeku beberapa waktu sebelumnya. Sejak itu aku tidak pernah lagi memperlihatkan foto-foto ulat kepadanya, kecuali kalau ia yang membuka dan melihat sendiri di kamera hapeku.

ulat keket - Attacus atlas ulat keket - Attacus atlas 02
ulat keket - Attacus atlas 03
ulat keket - Attacus atlas 04
Ulat ngengat kupu-kupu gajah (Attacus atlas), atau dikenal dengan nama ulat keket, sedang memakan daun kecapi. Tubuhnya yang berduri dilapisi semacam lilin berwarna putih.

Bertahun-tahun kemudian, barulah aku mengetahui ulat apa yang aku lihat itu. Ternyata itu adalah ulat dari ngengat atlas, atau kupu-kupu gajah (Attacus atlas). Aku sendiri mengenalnya sebagai ulat keket. Sementara nama lokal lainnya antara lain adalah hileud haji, hileud orok (Garut), ulat jedhug (Yogyakarta), ulat badori, ulat gajah.

Ternyata ulat ini dapat memakan banyak jenis daun tanaman. Lebih dari 90 macam daun tanaman dari 48 famili dapat menjadi makanannya. Pantas saja aku juga pernah menemukan ada seekor ulat keket ini di pohon alpukat yang tumbuh di depan rumah kecil di kebun di Jonggol.

Selain daun kecapi dan alpukat, ulat keket ini juga dapat memakan antara lain daun sirsak, srikaya, kina, teh, dadap, mangga, jeruk, lada, kayu manis, kenari, keben, cengkeh, jarak pagar, kaliki, jambu biji, kunyit, gempol, mahoni, rambutan, kedondong, uwi, rempeni dll.

Berdasarkan pengamatan dari tim peneliti IPB pada tahun 2008 yang dilakukan di daerah bogor dan garut, daun tanaman utama yang disukai ulat keket ini adalah daun tanaman sirsak (Annona muricata), kayu manis (Cinnamomum iners) dan kenari (Canarium indicum).

Ternyata ulat keket ini termasuk salah satu jenis ulat sutera ya. Saat menjadi kepompong, ia akan membungkus dirinya dengan benang sutera. Dan kain sutera yang dihasilkannya pun ternyata lebih mahal daripada sutera biasa. Apalagi jika yang menjadi makanannya adalah daun sirsak, maka benang sutera yang dihasilkan menjadi lebih liat dan cemerlang warnanya. Demikianlah hasil dari penelitian Soleh, seorang perajin sutera alam dari daerah Garut. Wah..ternyata serangga ini punya nilai ekonomi yang cukup tinggi ya.

***

Kupu-kupu gajah (Attacus atlas)

Tanggal: 2, 9, 10, 23 Maret 2013

Kamera: Canon IXY DIGITAL 510 IS

Lokasi: Desa Sukasirna, Jonggol, Bogor Timur

Sekitar 4 tahun setelah melihat ulatnya, akhirnya aku mendapat kesempatan untuk bisa juga melihat bentuknya setelah menjadi ngengat.

Sebenarnya ketika aku kecil dulu, pernah juga melihat ngengat ini. Tetapi mungkin karena semakin lama daerah tempat aku tinggal di Pasar Rebo, Jakarta Timur, semakin ramai oleh pemukiman penduduk yang mungkin akhirnya merusak habitat ngengat ini, akhirnya ketika aku beranjak besar, aku tidak pernah lagi melihat ngengat ini. Jadi ketika aku mendapat kesempatan untuk bisa melihat ngengat ini lagi, aku merasa senang sekali ya.

Saat pertama melihat lagi ngengat Attacus atlas ini, waktu itu aku sedang mencuci piring sehabis menutup toko dan beres-beres. Rencananya besok paginya aku akan pulang ke rumah di Pasar Rebo untuk menengok istri dan anak-anakku yang sekarang tinggal bersama ibuku.

Sejak Papa meninggal dunia pada pertengahan tahun 2011, akhirnnya aku, istri dan anakku tinggal di rumah di Jonggol, Bogor Timur, meneruskan usaha cuci motor dan toko kecil yang telah dirintis Papa sebelumnya. Namun sejak adik perempuanku juga meninggal dunia pada pertengahan tahun 2012, setahun sejak Papa meninggal, akhirnya istri dan anakku tinggal di rumah di Pasar Rebo untuk menemani Mama.

Sejak itu aku jadi tinggal sendiri di Jonggol. 1-2 kali dalam sebulan (kadang lebih) aku pulang ke rumah di Pasar Rebo untuk menengok istri dan anak-anakku.

Pada malam saat pertama kali melihat ngengat atlas ini, aku sempat bingung juga untuk menaruhnya dimana karena ukurannya yang sangat besar itu. Akhirnya aku mengurungnya dengan tempat sampah plastik. Saat itu aku sama sekali tidak terpikir untuk memasukannya ke dalam kamar ya. Barulah setelah kemudian menemukan lagi ngengat tersebut, aku menaruhnya di dalam kamar.

Esok harinya, aku memasukan ngengat atlas tersebut ke dalam kardus dan membawanya ke Pasar Rebo untuk ku perlihatkan kepada anakku yang berumur 2 tahun, si kecil Daisuki, yang suka dengan serangga.

Si kecil Daisuki merasa senang sekali dengan ngengat ini dan akhirnya dapat mengucapkan kata yang tepat untuk menyebutkan jenis serangga ini, yaitu kupu-kupu. Aku memang masih mengenalkan kupu-kupu dan ngengat kepadanya menjadi sebagai kupu-kupu saja. Biasanya ia selalu menyebut kupu-kupu dengan kata bapung (=capung).

Ngengat atlas atau kupu-kupu gajah yang aku bawa ke Pasar Rebo itu ternyata adalah ngengat atlas betina. Ukuranya memang lebih besar dan lebih berat dibandingkan dengan ngengat jantan. Saat aku ukur, rentang sayapnya mencapai lebih dari 20 cm. Ngengat atlas memang merupakan ngengat terbesar di dunia. Rentang sayapnya dapat mencapai 25-30 cm. 

Ketika kemudian malamnya aku sekeluarga pergi dan menginap di tempat nenek di Depok, Jawa Barat, selama 1 hari, ngengat tersebut aku tinggalkan terkurung di dalam rumah. Dan ketika aku pulang, aku dapati ngengat tersebut sudah mati dengan perut yang sobek. Mungkin ia digigit oleh cicak.

Sekitar 1 minggu kemudian, saat telah berada kembali di Jonggol, aku menemukan lagi seekor ngengat atlas saat sedang membakar sampah di kebun. Ngengat itu sedang hinggap di daun sente (sejenis tanaman keladi yang getahnya dapat membuat gatal). Aku lalu menangkap dan melepaskannya di dalam kamar.

Ngengat yang aku temukan itu ternyata adalah ngengat jantan. Karena kalau tengah malam ngengat tersebut terbang dan membuat berisik, istriku yang saat itu sedang ikut menginap bersama anakku yang bungsu yang baru berusia sekitar 6 bulan, akhirnya menyuruhku untuk melepaskannya. Akhirnya ngengat itu pun aku lepaskan setelah sempat tinggal 1 hari di dalam kamar. Kasihan juga kalau dikurung terus, nanti ngengatnya tidak bisa mencari makan katanya.

Namun setelah mendapatkan informasi dari berbagai sumber, ternyata kalau sudah menjadi dewasa, si kupu-kupu gajah ini sudah tidak mencari makan lagi ya. Ngengat ini mempunyai mulut yang tidak sempurna yang tidak bisa digunakan untuk makan. Jadi ia hanya hidup dari persediaan lemak yang diperolehnya saat menjadi ulat. Masa hidupnya yang hanya sekitar 1-2 minggu saja digunakan untuk mencari pasangan, kawin, bertelur dan kemudian mati.

Setelah mengetahui bahwa ternyata ngengat atlas sudah tidak perlu makan lagi, maka ketika sekitar 2 minggu kemudian ada lagi ngengat atlas betina yang nyasar masuk kedalam toko, aku pun menangkap dan melepaskannya dikamar.

Selama 2 hari ngengat itu berada di dalam kamar. Setiap tengah malam ia terbang berputar-putar dan bertelur di kelambu. Ada sekitar 50 butir telurnya yang aku kumpulkan dan taruh di dalam toples plastik. Pada hari ketiga ia pun mati.

Telur-telur ngengat atlas akan menetas dalam waktu antara 8-14 hari, tergantung pada suhu yang ada. Ternyata telur-telur yang aku kumpulkan di dalam toples itu sebagian mulai menetas pada hari ke 8. Sebagian telur itu menetas pada malam hari, sementara sisanya di esok harinya. Ulat-ulatnya saat baru menetas berukuran sekitar 5 mm. Dan sebagai makanan pertamanya, mereka ternyata menyantap bekas kulit telurnya dulu ya.

ngengat Attacus atlas betina
ngengat Attacus atlas betina 02 ngengat Attacus atlas betina 03
Kupu-kupu gajah alias ngengat atlas (Attacus atlas) betina mempunyai ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan ngengat jantan.

ngengat Attacus atlas jantan
ngengat Attacus atlas jantan 02 ngengat Attacus atlas jantan 03
Kupu-kupu gajah alias ngengat atlas (Attacus atlas) jantan berukuran lebih kecil dibandingkan dengan ngengat betina tetapi mempunyai antena yang lebih besar.

daisuki dan ngengat atlas daisuki dan ngengat atlas 02
Si kecil Daisuki dengan ngengat atlas yang aku bawa dari Jonggol.

telur ngengat atlas
Telur ngengat atlas yang aku temukan menempel di kelambu yang ada di dalam kamar. Sekitar 8 hari kemudian, sebagian telur-telur itu mulai menetas pada malam hari.

Ulat kupu-kupu gajah saat baru menetas
Ulat ngengat atlas saat baru menetas, ukurannya sekitar 5 mm.

*****

Situs referensi:

No comments:

Post a Comment