Tampilkan postingan dengan label Klasifikasi Ilmiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Klasifikasi Ilmiah. Tampilkan semua postingan

30 Mei 2017

Dysdercus cingulatus si Bapak pucung

aIMG_2021

Kingdom Animalia Linnaeus, 1758 – animals [2]
Phylum Arthropoda von Siebold, 1848 – arthropods [3]
Class Insecta Linnaeus, 1758 – insects [8]
Order Hemiptera Linnaeus, 1758 – true bugs [6]
Suborder Heteroptera Latreille, 1810 –  [7]
Family Pyrrhocoridae Dohrn, 1859 – red bugs, cotton stainers [9]
Genus Dysdercus Audinet-Serville, 1835 [4]
Species Dysdercus cingulatus (Fabricius, 1775) – Red Cotton Bug [5]

Nama Indonésia: Bapak Pucung (Jawa) [1] [10]
Nama Inggris: Red Cotton Bug, Cotton Stainer Bug, Red Cotton Stainer, Red Seed Bug of Malvaceae [10]


aIMG_2363

Red cotton bug atau Bapak pucung (Dysdercus cingulatus) merupakan salah satu jenis serangga dari ordo Hemiptera atau bangsa kepik (true bugs) yang dapat ditemui antara lain di tanaman Pulutan (Urena lobata) yang tumbuh disekitar rumah di Jonggol, Bogor, Jawa Barat. Walaupun sedang kawin, kepik betina tetap sibuk mencari makan dengan cara menghisap cairan tanaman inangnya ya.


aaIMG_2377-vert

Saat sedang kawin dan merasa ada ganguan, ternyata sang kepik betina sanggup membawa sang jantan, bukan hanya menyeret tetapi mengangkatnya dengan hanya bermodalkan alat kelaminnya ya..ckckckck hebat euy..


aIMG_7865

Bapak pucung ternyata merupakan hama ya, dimana baik serangga muda maupun dewasa menyerang tanaman dari keluarga Malvaceae (kapas, rosela, dan okra) dan keluarga Bombacaceae (kapuk randu). [1]


 

Referensi dan informasi lebih lanjut bisa lihat di:

  1. Pracaya, 2008, Hama & penyakit tanaman [Google books], (https://books.google.co.id/books?id=IHkTEjTjTkcC&lpg=PA63&ots=81-aFw5SS9&dq=keluarga+Pyrrhocoridae&pg=PA63&redir_esc=y&hl=en#v=onepage&q=keluarga%20Pyrrhocoridae&f=false, diakses tanggal 30 Mei 2017)
  2. Wikipedia, 2017, Animal, [online], (https://en.wikipedia.org/wiki/Animal, diakses tanggal 30 Mei 2017)
  3. Wikiedia, 2017, Arthropod, [online], (https://en.wikipedia.org/wiki/Arthropod, diakses tanggal 30 mei 2017)
  4. Wikipedia, 2017, Dysdercus, [online], (https://en.wikipedia.org/wiki/Dysdercus, diakses tanggal 30 Mei 2017)
  5. Wikipedia, 2017, Dysdercus cingluatus, [online] (https://en.wikipedia.org/wiki/Dysdercus_cingulatus, diakses tanggal 30 Mei 2017)
  6. Wikipedia, 2017, Hemiptera, [online], (https://en.wikipedia.org/wiki/Hemiptera, diakses tanggal 30 Mei 2017)
  7. Wikipedia, 2017, Heteroptera, [online], (https://en.wikipedia.org/wiki/Heteroptera, diakses tanggal 30 Mei 2017)
  8. Wikipedia, 2017, Insect, [online], (https://en.wikipedia.org/wiki/Insect, diakses tanggal 30 Mei 2017)
  9. Wikipedia, 2017, Pyrrhocoridae, [online], (https://en.wikipedia.org/wiki/Pyrrhocoridae, diakses tanggal 30 Mei 2017)
  10. Wikipedia Jawa, 2017, Bapak pucung, [online], (https://jv.wikipedia.org/wiki/Bapak_pucung, diakses tanggal 30 Mei 2017)

22 September 2013

Klasifikasi ilmiah Belalang Atractomorpha crenulata

belalang Atractomorpha crenulata jantanbelalang Atractomorpha crenulata betinaBelalang Atractomorpha crenulata jantan (atas) dan betina (bawah).


Klasifikasi ilmiah belalang Atractomorpha crenulata

Domain: Eukaryota Whittaker & Margulis, 1978eukariota, organisme dengan sel kompleks, di mana bahan-bahan genetika disusun menjadi nuklei yang terikat membran, atau mudahnya disebut sebagai makhluk hidup yang memiliki membran inti sel. Sementara makhluk hidup yang tidak memiliki membran inti sel disebut prokariota (bakteri dan archaea).

Kingdom: Animalia Linnaeus, 1758hewan, atau disebut juga binatang, fauna atau margasatwa (atau satwa saja), adalah kelompok organisme eukariotik yang mempunyai banyak sel tubuh yang terorganisasi dalam fungsi-fungsi yang berbeda. Tubuhnya pada akhirnya akan mempunyai bentuk yang tetap saat mereka berkembang, walaupun beberapa jenis akan mengalami metamorfosis dalam kehidupannya. Kebanyakan hewan dapat bergerak secara spontan dan bebas (motile). Semua hewan merupakan organisme heterotrof, artinya tidak dapat membuat energi sendiri, tetapi harus mengambil dari lingkungan sekitarnya dengan cara mencari makan.

Subkingdom: Bilateria Hatschek, 1888 hewan yang mempunyai simetri bilateral, yaitu mempunyai bagian depan dan belakang, bagian sisi atas dan sisi bawah, paling tidak pada masa pertumbuhannya. Sementara hewan yang hanya mempunyai bagian atas dan bawah saja, seperti ubur-ubur, disebut hewan simetris radial. Bilateria memiliki tubuh yang berkembang dari tiga lapisan embrio yang berbeda, yang disebut endoderm, mesoderm, dan ektoderm. Oleh karena itu mereka disebut hewan triploblastik.

Branch: Protostomia Grobben, 1908 hewan yang pada masa perkembangan embrionya, lekukan (blastopora) yang dibentuk oleh embrio pada satu sisi akhirnya membentuk mulut. Sementara pada hewan lain, deuterostomia, lekukan asal itu akhirnya menjadi anus.

Infrakingdom: Ecdysozoa Aguinaldo et al., 1997hewan yang memiliki kutikula (rangka luar/eksoskeleton) berlapis tiga yang terdiri atas bahan organik, yang diganti secara berkala bersamaan tumbuhnya hewan tersebut. Proses pergantian kulit ini disebut ekdisis. Eksoskeleton lama yang sudah kosong disebut eksuvia. Setelah ekdisis, hewan masih pucat dan berbadan lunak. Dalam waktu satu atau dua jam, kutikula akan mengeras dan menjadi lebih gelap. Pada masa yang pendek inilah, hewan bertumbuh, karena biasanya pada fase lain pertumbuhannya dibatasi oleh kekakuan eksoskeleton.

Superphylum: Panarthropoda Nielsen, 1997hewan yang memiliki kaki, cakar, sistem saraf di perut (ventral nervous system) dan tubuh bersegmen atau terbagi.

Phylum: Arthropoda Latreille, 1829arthropoda atau hewan berbuku-buku, hewan beruas, atau hewan berkaki buku, merupakan hewan yang mempunyai kerangka luar (eksoskeleton), tubuhnya terbagi-bagi dalam beberapa bagian atau segmen, dan mempunyai anggota tubuh yang bersendi.

Subphylum: Mandibulata Snodgrass, 1938arthropoda yang memiliki mandibula atau rahang bawah yang dapat digunakan untuk menggigit, memotong atau memegang makanan.

Infraphylum: Atelocerata arthropoda yang bernafas dengan trakea atau corong hawa. Trakea adalah pembuluh halus yang bercabang-cabang sampai ke setiap sel tubuh arthropoda dan terhubung dengan stigma. Stigma atau spirakel merupakan lubang pernafasan tempat keluar masuknya udara. Stigma ini terdapat di sepanjang kedua sisi tubuh arthropoda. Oksigen yang masuk tidak diedarkan melalui darah, tetapi diedarkan melalui sistem trakea ini.

Superclass: Panhexapoda – meliputi genus Devonohexapodus dan epiclass Hexapoda.

Epiclass: Hexapoda Latreille, 1825arthropoda yang mempunyai 6 kaki (atau 3 pasang kaki) dimana kebanyakan arthropoda lain memiliki lebih dari 6 kaki.

Class: Insecta Linnaeus, 1758serangga, arthropoda yang memiliki rangka luar (eksoskeleton) yang terbuat dari bahan kitin, mempunyai tiga bagian tubuh (kepala, dada, perut), tiga pasang kaki, bermata kompon dan mempunyai sepasang antena.

Subclass: Dicondylia serangga yang mempunyai 2 titik artikulasi (penghubung) pada mandibula atau rahangnya yang membuat rahangnya dapat bergerak pada satu arah, tidak berputar.

Infraclass: Pterygota Lang, 1888 serangga bersayap, termasuk juga jenis serangga yang kini tidak lagi memiliki sayap tetapi dahulu nenek moyangnya merupakan jenis serangga bersayap.

Division: Neoptera Martynov, 1923serangga bersayap yang dapat melipat sayap ke bagian perut. Kemampuan ini telah hilang pada beberapa kelompok kecil, seperti pada beberapa jenis kupu-kupu dan ngengat.

Superorder: Orthopterida – kelompok serangga yang terdiri dari ordo Orthoptera (belalang, jangkrik, katidid) dan Phasmatodea (serangga kayu, serangga daun); dan 2 ordo serangga yang telah punah (Titanoptera dan Caloneurodea).

Order: Orthoptera Latreille, 1793kelompok serangga yang meliputi bangsa belalang (grasshoppers, locusts) dan bangsa jangkrik (crickets, bush crickets atau katydids dan serangga weta). Banyak serangga yang menjadi anggotanya dapat menghasilkan suara (dikenal sebagai stridulasi) dengan cara menggesekan sayap-sayap atau kaki-kaki mereka. Pada bangsa jangkrik, telinga (tympanum) terletak pada kaki (tibia) depan, sementara pada bangsa belalang, telinganya terletak pada segmen pertama perut. Serangga-serangga ini menggunakan getaran untuk mencari keberadaan serangga yang lain.
Orthopteran biasanya memiliki tubuh silinder dengan kaki belakang (hind legs) yang memanjang yang digunakan untuk melompat. Mereka mempunyai rahang (mandibula) dan mata kompon yang besar, dan pada beberapa spesies terdapat juga mata oseli (ocelli) atau mata tunggal yang berfungsi untuk mendeteksi intensitas cahaya. Antenanya mempunyai banyak sendi dengan panjang yang bervariasi.
Segmen pertama dan ketiga dari bagian dada (thorax) membesar, sementara segmen kedua jauh lebih pendek. Sayapnya terdiri dari 2 pasang yang panjangnya melebihi perut ketika dilipat ke perut saat istirahat. Sayap depan (forewings atau tegmina) lebih sempit dibandingkan sayap belakang (hindwings) dan mengeras pada pangkalnya. Sayap belakangnya merupakan membran yang memiliki vena atau pertulangan sayap yang lurus dan memiliki banyak vena yang bersilangan. Saat istirahat, sayap belakangnya terlipat seperti kipas dan berada di bawah sayap depan. 2-3 dari segmen terakhir pada bagian perut memendek dan memiliki 1 segmen cerci. Cerci merupakan sepasang organ tubuh serangga yang terletak pada segmen paling belakang yang secara umum dapat berfungsi sebagai organ sensor, senjata, alat bantu dalam proses perkawinan atau bisa juga merupakan suatu bagian yang telah kehilangang fungsinya (vestigial structures).
Orthopteran merupakan serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna (hemimetabolism atau hemimetaboly) dimana siklus hidupnya meliputi tahapan : telur, nimfa dan imago (serangga dewasa). Nimfanya mengalami perubahan secara bertahap dan menjadi imago tanpa adanya tahapan pupa (kepompong). Nimfanya seringkali menyerupai serangga dewasa, baik itu dari segi kebiasaan ataupun makanan, tetapi tanpa sayap dan organ reproduksi yang berfungsi.

Suborder: Caelifera Ander, 1939bangsa belalang (grasshoppers, locusts), kadang disebut juga dengan nama belalang berantena pendek (short-horned grasshoppers) untuk membedakannya dengan jangkrik semak (bush crickets atau katydids) dari subordo Ensifera yang disebut juga dengan nama belalang berantena panjang (long-horned grasshoppers) dimana panjang antenanya dapat melebihi tubuh mereka. Spesies belalang yang dapat mengalami perubahan warna dan kebiasaan pada saat tingkat populasinya tinggi disebut dengan nama locusts.
Belalang biasanya mempunyai antena yang lebih pendek dari tubuhnya dan mempunyai ovipositor yang pendek yang digunakan untuk bertelur. Belalang mempunyai rahang bawah (mandible) yang digunakan untuk memotong dan merobek makanannya yang biasanya berupa tanaman. Beberapa jenis belalang dapat menghasilkan suara dengan cara menggesek-gesekan kaki belakang mereka yang panjang dan kuat yang digunakan untuk melompat (hind femurs) ke sayap depan atau perut mereka, atau dengan mengepakan sayapnya saat terbang.
Bangsa belalang hampir serupa dengan bangsa jangkrik namun dapat dibedakan antara lain berdasarkan dari jumlah segmen pada antena, struktur ovipositor, lokasi dari telinga dan juga pada suara yang dihasilkannya. Bangsa jangkrik setidaknya mempunyai 20-24 segmen pada antenanya, sementara bangsa belalang mempunyai segmen yang lebih sedikit.

Infraorder:  Acrididea Macleay, 1821

Superfamily group: Acridomorpha

Superfamily: Pyrgomorphoidea Brunner von Wattenwyl, 1874

Family: Pyrgomorphidae Brunner von Wattenwyl, 1874gaudy grasshoppers

Genus: Atractomorpha Saussure, 1862

Species: Atractomorpha crenulata (Fabricius, 1793)
Synonym: Atractomorpha acuminipennis (Blanchard, E.E., 1963)
                 Atractomorpha consobrina Saussure, 1862
                 Atractomorpha obscura Bolivar, I., 1917
                 Atractomorpha scaber (Thunberg, 1815)
                 Pyrgomorpha acuminipennis Blanchard, E.E., 1963
                 Truxalis crenulatus Fabricius, 1793
                 Truxalis porrecta Walker, F., 1859
                 Truxalis scaber Thunberg, 1815


Catatan:

* klasifikasi ilmiah belalang berdasarkan Systema Naturae 2000 (sn2000.taxonomy.nl/)

* nama yang ada di belakang suatu takson adalah nama pengarang atau pendeskripsi takson tersebut, sementara angka tahun yang ada dibelakang namanya merupakan tahun dimana takson tersebut dipublikasikan.


belalang Atractomorpha crenulata kawin
Belalang Atractomorpha crenulata sedang kawin.


Referensi:

  • Anakunhas, sistem pernafasan pada serangga (www.anakunhas.com/2011/07/sistem-pernapasan-pada-serangga.html)
  • Belajar Matematika Dan IPA, IPA Kelas 5SD, Mekanisme Pernafasan Pada Hewan (belajar-matematikaipa.blogspot.com/2012/01/mekanisme-pernafasan-pada-hewan.html)
  • Biolib, Atractomorpha crenulata (www.biolib.cz/en/taxonposition/id377276/)
  • Fobi, Atractomorpha crenulata (www.fobi.web.id/v/insect/f-pyg/atr-cre)
  • Google Books Result, Evolution of the Insects -Page 150 (books.google.com/books?id=Ql6Jl6wKb88C&pg=PA150&lpg=PA150&dq=dicondylia&source=bl&ots=q9BvB-BvzB&sig=DBV4RmcnTMW0KaSCjQp0LciryEc&hl=en&sa=X&ei=HI4lUciTL8jKrAeb-4DYBw&ved=0CFcQ6AEwBA%29)
  • Paleobiology Database, Infraorder Acrididea (paleobiologydatabase.org/?a=basicTaxonInfo&taxon_no=176224)
  • Paleobiology Database, Infraorder Tridactylidea (paleobiologydatabase.org/?a=basicTaxonInfo&taxon_no=176218)
  • Systema Naturae 2000, Family Pyrgomorphidae (sn2000.taxonomy.nl/Main/Classification/119736.htm)
  • Tegmina, Morfologi Serangga (tegmina.wordpress.com/2011/03/09/morfologi-serangga/)
  • Wikipedia, Arthropod (en.wikipedia.org/wiki/Arthropoda%29)
  • Wikipedia, Atractomorpha (grasshopper) (en.wikipedia.org/wiki/Atractomorpha_%28grasshopper%29)
  • Wikipedia, Cercus (en.wikipedia.org/wiki/Cercus)
  • Wikipedia, Grasshopper (en.wikipedia.org/wiki/Caelifera)
  • Wikipedia, Hemimetabolism (en.wikipedia.org/wiki/Incomplete_metamorphosis)
  • Wikipedia, Hexapoda (en.wikipedia.org/wiki/Hexapoda%29)
  • Wikipedia, Insect (en.wikipedia.org/wiki/Insect)
  • Wikipedia, Mandible (arthropod mouthpart) (en.wikipedia.org/wiki/Mandible_%28arthropod%29%29)
  • Wikipedia, Mandibulata (en.wikipedia.org/wiki/Mandibulata)
  • Wikipedia, Orthoptera (en.wikipedia.org/wiki/Orthoptera)
  • Wikipedia, Pterygota
  • wikipedia, Pyrgomorphidae (en.wikipedia.org/wiki/Pyrgomorphidae
  • Wikipedia, Tettigoniidae (en.wikipedia.org/wiki/Tettigoniidae)
  • Wikipedia, Vestigiality (en.wikipedia.org/wiki/Vestigial_structure)
  • Wikipedia bahasa Indonesia, Bilateria (id.wikipedia.org/wiki/Bilateria)
  • Wikipedia bahasa Indonesia, Ecdysozoa (id.wikipedia.org/wiki/Ecdysozoa)
  • Wikipedia bahasa Indonesia, Ekdisis (id.wikipedia.org/wiki/Ekdisis)
  • Wikipedia bahasa Indonesia, Eukariota (id.wikipedia.org/wiki/Eukariota)
  • Wikipedia bahasa Indonesia, Hewan (id.wikipedia.org/wiki/Hewan)
  • Wikipedia bahasa Indonesia, Klasifikasi ilmiah (id.wikipedia.org/wiki/Klasifikasi_ilmiah)
  • Wikipedia bahasa Indonesia, Prokariota (id.wikipedia.org/wiki/Prokariota)
  • Wikipedia bahasa Indonesia, Protostomia (id.wikipedia.org/wiki/Protostomia)
  • Wikipedia bahasa Indonesia, Rahang (id.wikipedia.org/wiki/Rahang)
  • Wikipedia bahasa Indonesia, Tata nama biologi (id.wikipedia.org/wiki/Tata_nama_biologi)

24 April 2013

Klasifikasi Ilmiah BELALANG

Jeprat Jepret Belalang

Systema Naturae 2000 / Classification

- Suborder Caelifera -

Domain Eukaryota Whittaker & Margulis, 1978eukariota, organisme dengan sel kompleks, di mana bahan-bahan genetika disusun menjadi nuklei yang terikat membran, atau mudahnya disebut sebagai makhluk hidup yang memiliki membran inti sel. Sementara makhluk hidup yang tidak memiliki membran inti sel disebut prokariota (bakteri dan archaea).

Kingdom Animalia Linnaeus, 1758hewan, atau disebut juga binatang, fauna atau margasatwa (atau satwa saja), adalah kelompok organisme eukariotik yang mempunyai banyak sel tubuh yang terorganisasi dalam fungsi-fungsi yang berbeda. Tubuhnya pada akhirnya akan mempunyai bentuk yang tetap saat mereka berkembang, walaupun beberapa jenis akan mengalami metamorfosis dalam kehidupannya. Semua hewan merupakan organisme heterotrof, artinya tidak dapat membuat energi sendiri, tetapi harus mengambil dari lingkungan sekitarnya dengan cara mencari makan.

Subkingdom Bilateria Hatschek, 1888 – hewan yang mempunyai simetri bilateral, yaitu mempunyai bagian depan dan belakang, bagian sisi atas dan sisi bawah, paling tidak pada masa pertumbuhannya. Sementara hewan yang hanya mempunyai bagian atas dan bawah saja, seperti ubur-ubur, disebut hewan simetris radial. Bilateria memiliki tubuh yang berkembang dari tiga lapisan embrio yang berbeda, yang disebut endoderm, mesoderm, dan ektoderm. Oleh karena itu mereka disebut juga hewan triploblastik.

Branch Protostomia Grobben, 1908 – hewan yang pada masa perkembangan embrionya, lekukan (blastopora) yang dibentuk oleh embrio pada satu sisi akhirnya membentuk mulut. Sementara pada hewan lain, deuterostomia, lekukan asal itu akhirnya menjadi anus.

Infrakingdom Ecdysozoa Aguinaldo et al., 1997 – hewan yang memiliki kutikula (rangka luar/eksoskeleton) berlapis tiga yang terdiri atas bahan organik, yang diganti secara berkala bersamaan tumbuhnya hewan tersebut. Proses pergantian kulit ini disebut ekdisis. Eksoskeleton lama yang sudah kosong disebut eksuvia. Setelah ekdisis, hewan masih pucat dan berbadan lunak. Dalam waktu satu atau dua jam, kutikula akan mengeras dan menjadi lebih gelap. Pada masa yang pendek inilah, hewan bertumbuh, karena biasanya pada fase lain pertumbuhannya dibatasi oleh kekakuan eksoskeleton.

Superphylum Panarthropoda Nielsen, 1997 – hewan yang memiliki kaki, cakar, sistem saraf di perut (ventral nervous system) dan tubuh bersegmen atau terbagi.

Phylum Arthropoda Latreille, 1829arthropoda atau hewan berbuku-buku/hewan beruas, atau hewan berkaki buku, merupakan hewan yang mempunyai kerangka luar (eksoskeleton), tubuhnya terbagi-bagi dalam beberapa bagian atau segmen, dan mempunyai anggota tubuh yang bersendi.

Subphylum Mandibulata Snodgrass, 1938 – arthropoda yang memiliki mandibula atau rahang bawah yang dapat digunakan untuk menggigit, memotong atau memegang makanan.

Infraphylum Atelocerata – arthropoda yang bernafas dengan trakea atau corong hawa. Trakea adalah pembuluh halus yang bercabang-cabang sampai ke setiap sel tubuh arthropoda dan terhubung dengan stigma. Stigma atau spirakel merupakan lubang pernafasan tempat keluar masuknya udara. Stigma ini terdapat di sepanjang kedua sisi tubuh arthropoda. Oksigen yang masuk tidak diedarkan melalui darah, tetapi diedarkan melalui sistem trakea ini.

Superclass Panhexapoda – meliputi genus Devonohexapodus dan epiclass Hexapoda.

Epiclass Hexapoda Latreille, 1825 – arthropoda yang mempunyai 6 kaki (atau 3 pasang kaki) dimana kebanyakan arthropoda lain memiliki lebih dari 6 kaki.

Class Insecta Linnaeus, 1758serangga, arthropoda yang memiliki rangka luar (eksoskeleton) yang terbuat dari bahan kitin, mempunyai tiga bagian tubuh (kepala, dada, perut), tiga pasang kaki, bermata kompon dan mempunyai sepasang antena.

                (baca : KLASIFIKASI ILMIAH SERANGGA)

Subclass Dicondylia – mempunyai 2 titik artikulasi (penghubung) pada mandibula atau rahangnya yang membuat rahangnya dapat bergerak pada satu arah, tidak berputar.

Infraclass Pterygota Lang, 1888serangga bersayap, termasuk juga jenis serangga yang kini tidak lagi memiliki sayap tetapi dahulu nenek moyangnya merupakan jenis serangga bersayap.

Division Neoptera Martynov, 1923serangga bersayap yang dapat melipat sayap ke bagian perut. Kemampuan ini telah hilang pada beberapa kelompok kecil, seperti pada beberapa jenis kupu-kupu dan ngengat.

Superorder Orthopterida – terdiri dari 4 ordo dimana 2 diantaranya merupakan ordo dari jenis serangga yang telah punah, yaitu Caloneurodea dan Titanoptera. 2 lainnya adalah Orthoptera (belalang, jangkerik, belalang daun/katidid), dan Phasmatodea (serangga kayu, serangga daun).

Order Orthoptera Latreille, 1793 – terdiri dari bangsa belalang (grasshoppers, locusts) dari suborder Caelifera; dan bangsa jangkrik (crickets), jangkrik semak (katydids atau bush-crickets) dan serangga weta dari suborder Ensifera. Banyak serangga yang menjadi anggotanya yang dapat menghasilkan suara dengan cara menggesekan paha (femur) belakang mereka dengan sayap depan atau perut mereka (disebut stridulasi); atau karena kepakan sayapnya ketika sedang terbang. Serangga-serangga ini menggunakan getaran untuk mencari keberadaan serangga yang lain.
Orthopteran biasanya memiliki tubuh silinder dengan kaki belakang (hind legs) yang memanjang yang digunakan untuk melompat. Mereka mempunyai rahang (mandibula) dan mata kompon yang besar, dan pada beberapa spesies terdapat juga mata oseli (ocelli) atau mata tunggal yang berfungsi untuk mendeteksi intensitas cahaya. Antenanya mempunyai banyak sendi dengan panjang yang bervariasi.
Segmen pertama dan ketiga dari bagian dada (thorax) membesar, sementara segmen kedua jauh lebih pendek. Sayapnya terdiri dari 2 pasang yang panjangnya melebihi perut ketika dilipat ke perut saat istirahat. Sayap depan (forewings atau tegmina) lebih sempit dibandingkan sayap belakang (hindwings) dan mengeras pada pangkalnya. Sayap belakangnya merupakan membran yang memiliki vena atau pertulangan sayap yang lurus dan memiliki banyak vena yang bersilangan. Saat istirahat, sayap belakangnya terlipat seperti kipas dan berada di bawah sayap depan. 2-3 dari segmen terakhir pada bagian perut memendek dan memiliki 1 segmen cerci. Cerci merupakan sepasang organ tubuh serangga yang terletak pada segmen paling belakang yang secara umum dapat berfungsi sebagai organ sensor, senjata, alat bantu dalam proses perkawinan atau bisa juga merupakan suatu bagian yang telah kehilangang fungsinya (vestigial structures).
Orthopteran merupakan serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna (hemimetabolism atau hemimetaboly) dimana siklus hidupnya hanya meliputi 3 tahapan saja : telur, nimfa dan imago (serangga dewasa). Nimfanya mengalami perubahan secara bertahap dan menjadi imago tanpa adanya tahapan pupa (kepompong). Nimfanya seringkali menyerupai serangga dewasa, baik itu dari segi kebiasaan ataupun makanan, tetapi tanpa sayap dan organ reproduksi yang berfungsi.

Suborder Caelifera Ander, 1939bangsa belalang (grasshoppers, locusts). Bangsa belalang hampir serupa dengan bangsa jangkrik namun dapat dibedakan antara lain berdasarkan dari jumlah segmen pada antena, struktur ovipositor, lokasi dari telinga dan juga pada suara yang dihasilkannya.  Bangsa belalang kadang disebut juga dengan nama belalang berantena pendek (short-horned grasshoppers) untuk membedakannya dengan jangkrik semak (bush crickets atau katydids) dari subordo Ensifera yang disebut juga dengan nama belalang berantena panjang (long-horned grasshoppers) dimana panjang antenanya dapat melebihi tubuh mereka. Bangsa jangkrik setidaknya mempunyai 20-24 segmen pada antenanya, sementara bangsa belalang mempunyai segmen yang lebih sedikit.
Belalang mempunyai ovipositor (organ untuk bertelur) yang lebih pendek dibandingkan dengan yang dimiliki oleh jangkerik atau belalang daun. Telinga belalang (tympana), jika ada, berada di segmen pertama dari perut, sementara telinga jangkerik dan belalang daun terletak pada kaki (tibia) depannya. Belalang mempunyai rahang bawah (mandible) yang digunakan untuk memotong dan merobek makanannya yang biasanya berupa tanaman. Beberapa jenis belalang dapat menghasilkan suara dengan cara menggesek-gesekan kaki belakang mereka yang panjang dan kuat yang digunakan untuk melompat (hind femurs) ke sayap depan atau perut mereka, atau dengan mengepakan sayapnya saat terbang.
Spesies belalang yang dapat mengalami perubahan warna dan kebiasaan pada saat tingkat populasinya tinggi disebut dengan nama locusts.

Suborder Caelifera terdiri dari 2 infraorder, yaitu:

Infraorder Acrididea MacLeay, 1821

Infraorder Tridactylidea Brulle 1835 

Catatan: nama yang ada di belakang suatu takson adalah nama pengarang atau pendeskripsi takson tersebut, sementara angka tahunnya menunjukan tahun dimana takson tersebut pertama kali dipublikasikan.


Referensi

02 Januari 2013

KLASIFIKASI ILMIAH SERANGGA

Jeprat Jepret Serangga

Serangga merupakan hewan yang ukuran dan bentuk sangat beragam dan hampir bisa ditemui dalam segala kondisi lingkungan yang ada. Ada lebih dari 1 juta spesies serangga telah dideskripsikan, suatu jumlah yang melebihi dari separuh makhluk hidup yang telah dikenal di dunia sampai saat ini.

Untuk memudahkan mengenali dan mempelajarinya, para ahli biologi telah membuat suatu klasifikasi atau pengelompokan serangga-serangga ini berdasarkan persamaan ciri-ciri yang dimilikinya. Namun dengan adanya perkembangan pengetahuan dan penemuan-penemuan baru, pada akhirnya klasifikasi serangga pun mengalami perubahan-perubahan. Karena belum adanya satu klasifikasi lengkap yang disepakati bersama oleh para ahli, pada akhirnya sekarang ini ada beberapa sistem klasifikasi yang bisa digunakan namun mempunyai sedikit/beberapa perbedaan antara satu sama lainnya.

Dari beberapa situs yang ada, akhirnya aku memutuskan untuk menuliskan klasifikasi serangga yang terdapat pada situs "Systema Naturae 2000". Ini dikarenakan klasifikasi yang diberikan mempunyai hubungan yang jelas antar tingkatan atau taksonnya sehingga memudahkanku, sebagai orang awam, untuk memahaminya.

Secara garis besar, urutan klasifikasi hewan yang digunakan sekarang ini adalah sebagai berikut, dimulai dari tingkat tertinggi ke terendah yaitu:

Kingdom (Kerajaan)

Phylum (Filum)

Class (Kelas)

Order (Ordo/Bangsa)

Family (Famili/keluarga/Suku)

Genus (Genus/Marga)

Species (Spesies/Jenis).


Systema Naturae 2000 / Classification

Domain: Eukaryota – organisme dengan sel kompleks

Kingdom: Animalia – hewan

Subkingdom: Bilateria – mempunyai simetri bilateral

Branch: Protostomia

Infrakingdom: Ecdysozoa – berganti kulit

Superphylum: Panarthropoda

Phylum: Arthropoda – hewan berbuku-buku

Subphylum: Mandibulata – mempunyai mandibula

Infraphylum: Atelocerata – bernafas dengan trakea

Superclass: Panhexapoda

Epiclass: Hexapoda – berkaki 6

Class: Insecta – serangga

Subclass: Dicondylia – ada 2 titik artikulasi pada rahang

Infraclass: Pterygota – serangga bersayap

Superorder: Odonatoptera

Order: Odonata – capung dan capung jarum

Division: Neoptera – dapat melipat sayapnya ke perut

Superorder: Orthopterida

Order: Orthopterabelalang, jangkrik, katidid

Subdivision: Endopterygota – metamorfosi sempurna

Order: Coleoptera – kumbang

Superorder: Neuropterida

Order: Neuroptera – serangga bersayap jala

Superorder: Panorpida

Order: Diptera – lalat, nyamuk

Order: Lepidoptera – kupu-kupu dan ngengat


Klasifikasi Ilmiah Serangga

Domain: Eukaryota Whittaker & Margulis, 1978eukariota, organisme dengan sel kompleks, di mana bahan-bahan genetika disusun menjadi nuklei yang terikat membran, atau mudahnya disebut sebagai makhluk hidup yang memiliki membran inti sel. Sementara makhluk hidup yang tidak memiliki membran inti sel disebut prokariota (bakteri dan archaea).

Kingdom: Animalia Linnaeus, 1758hewan, atau disebut juga binatang, fauna atau margasatwa (atau satwa saja), adalah kelompok organisme eukariotik yang mempunyai banyak sel tubuh yang terorganisasi dalam fungsi-fungsi yang berbeda. Tubuhnya pada akhirnya akan mempunyai bentuk yang tetap saat mereka berkembang, walaupun beberapa jenis akan mengalami metamorfosis dalam kehidupannya. Semua hewan merupakan organisme heterotrof, artinya tidak dapat membuat energi sendiri, tetapi harus mengambil dari lingkungan sekitarnya dengan cara mencari makan.

Subkingdom: Bilateria Hatschek, 1888 – hewan yang mempunyai simetri bilateral, yaitu mempunyai bagian depan dan belakang, bagian sisi atas dan sisi bawah, paling tidak pada masa pertumbuhannya. Sementara hewan yang hanya mempunyai bagian atas dan bawah saja, seperti ubur-ubur, disebut hewan simetris radial. Bilateria memiliki tubuh yang berkembang dari tiga lapisan embrio yang berbeda, yang disebut endoderm, mesoderm, dan ektoderm. Oleh karena itu mereka disebut juga hewan triploblastik.

Branch: Protostomia Grobben, 1908 – hewan yang pada masa perkembangan embrionya, lekukan (blastopora) yang dibentuk oleh embrio pada satu sisi akhirnya membentuk mulut. Sementara pada hewan lain, deuterostomia, lekukan asal itu akhirnya menjadi anus.

Infrakingdom: Ecdysozoa Aguinaldo et al., 1997 – hewan yang memiliki kutikula (rangka luar/eksoskeleton) berlapis tiga yang terdiri atas bahan organik, yang diganti secara berkala bersamaan tumbuhnya hewan tersebut. Proses pergantian kulit ini disebut ekdisis. Eksoskeleton lama yang sudah kosong disebut eksuvia. Setelah ekdisis, hewan masih pucat dan berbadan lunak. Dalam waktu satu atau dua jam, kutikula akan mengeras dan menjadi lebih gelap. Pada masa yang pendek inilah, hewan bertumbuh, karena biasanya pada fase lain pertumbuhannya dibatasi oleh kekakuan eksoskeleton.

Superphylum: Panarthropoda Nielsen, 1997 – hewan yang memiliki kaki, cakar, sistem saraf di perut (ventral nervous system) dan tubuh bersegmen atau terbagi.

Phylum: Arthropoda Latreille, 1829arthropoda atau hewan berbuku-buku/hewan beruas, atau hewan berkaki buku, merupakan hewan yang mempunyai kerangka luar (eksoskeleton), tubuhnya terbagi-bagi dalam beberapa bagian atau segmen, dan mempunyai anggota tubuh yang bersendi.

Subphylum: Mandibulata Snodgrass, 1938 – arthropoda yang memiliki mandibula atau rahang bawah yang dapat digunakan untuk menggigit, memotong atau memegang makanan.

Infraphylum: Atelocerata – arthropoda yang bernafas dengan trakea atau corong hawa. Trakea adalah pembuluh halus yang bercabang-cabang sampai ke setiap sel tubuh arthropoda dan terhubung dengan stigma. Stigma atau spirakel merupakan lubang pernafasan tempat keluar masuknya udara. Stigma ini terdapat di sepanjang kedua sisi tubuh arthropoda. Oksigen yang masuk tidak diedarkan melalui darah, tetapi diedarkan melalui sistem trakea ini.

Superclass: Panhexapoda - meliputi genus Devonohexapodus dan epiclass Hexapoda.

Epiclass: Hexapoda Latreille, 1825 – arthropoda yang mempunyai 6 kaki (atau 3 pasang kaki) dimana kebanyakan arthropoda lain memiliki lebih dari 6 kaki.

Class: Insecta Linnaeus, 1758serangga, arthropoda yang memiliki rangka luar (eksoskeleton) yang terbuat dari bahan kitin, mempunyai tiga bagian tubuh (kepala, dada, perut), tiga pasang kaki, bermata kompon dan mempunyai sepasang antena.

Subclass: Dicondylia – mempunyai 2 titik artikulasi (penghubung) pada mandibula atau rahangnya yang membuat rahangnya dapat bergerak pada satu arah, tidak berputar.

Infraclass: Pterygota Lang, 1888 – serangga bersayap, termasuk juga jenis serangga yang kini tidak lagi memiliki sayap tetapi dahulu nenek moyangnya merupakan jenis serangga bersayap.

Superorder: Odonatoptera Martynov, 1932 - kelompok serangga bersayap purba dimana anggotanya yang masih hidup sampai saat ini hanyalah capung dan capung jarum.

Order: Odonata Fabricius, 1793 – bangsa capung (dragonflies) dan capung jarum (damselflies).

Division: Neoptera Martynov, 1923 – serangga bersayap yang dapat melipat sayap ke bagian perut. Kemampuan ini telah hilang pada beberapa kelompok kecil, seperti pada beberapa jenis kupu-kupu dan ngengat.

Superorder: Orthopterida – kelompok serangga yang terdiri dari ordo Orthoptera (belalang, jangkrik, katidid) dan Phasmatodea (serangga kayu, serangga daun); dan 2 ordo serangga yang telah punah (Titanoptera dan Caloneurodea)

Order: Orthoptera Latreille, 1793 – terdiri dari bangsa belalang (grasshoppers, locusts) dari suborder Caelifera; dan bangsa jangkrik (crickets), jangkrik semak (katydids atau bush-crickets) dan serangga weta dari suborder Ensifera.

Subdivision: Endopterygota Sharp, 1898 – kelompok serangga yang mengalami metamorfosis sempurna, dimana siklus hidupnya meliputi telur, larva, kepompong/pupa dan serangga dewasa. Larva dan serangga dewasa mempunyai bentuk dan kebiasaan yang berbeda.

Order: Coleoptera Linnaeus, 1758 – bangsa kumbang (beetles), terdiri dari subbangsa Adephaga, Archostemata, Myxophaga, Polyphaga dan 2 subbangsa dari serangga yang telah punah (Protocoleoptera dan Archecoleoptera).

Suborder: Polyphaga Emery, 1886 – kelompok kumbang yang memakan banyak jenis makanan. Polyphaga merupakan subbangsa kumbang yang terbesar dan paling bervariasi dengan hampir 90% jenis kumbang yang telah didefinisikan menjadi anggotanya, termasuk kepik, kumbang koksi, kumbang kura-kura, kumbang penggerek, kumbang tanduk dll.

Superorder: Neuropterida – serangga dengan penampilan cukup primitif, dengan sayap yang besar namun mempunyai otot sayap yang lemah sehingga terbangnya terlihat canggung.

Order: Neuroptera Linnaeus, 1758 – bangsa serangga bersayap jala (net-winged insects) meliputi lacewings, mantidflies, antlions (undur-undur).

Superorder: Panorpida – terdiri dari ordo Mecoptera (lalat kalajengking, lalat salju), Siphonaptera (kutu), Strepsiptera (serangga bersayap putar), Diptera (lalat, nyamuk), Trichoptera (lalat caddis) dan Lepidoptera (kupu-kupu dan ngengat)

Order: Diptera Linnaeus, 1758 – terdiri dari bangsa lalat (true flies) dari suborder Brachycera; dan bangsa nyamuk (mosquitoes, crane flies, gnats, midges) dari suborder Nematocera.

Order: Lepidoptera Linnaeus, 1758 – bangsa ngengat (moths) dan kupu-kupu (butterflies).


Catatan: nama yang ada di belakang suatu takson adalah nama pengarang atau pendeskripsi takson tersebut (autoritas), sementara tahun yang tertera dibelakangnya merupakan tahun dimana takson tersebut pertama kali dipublikasikan.


Referensi