10 September 2013

Ngengat Atlas (Attacus atlas) Keluar Dari Kepompong

Kamera: Canon IXY DIGITAL 510 IS
Lokasi: Jonggol, Bogor Timur, Jawa Barat

Pada suatu hari, pada tanggal 2 April 2013, ada seorang teman yang memberikan sebuah kepompong dari ngengat atlas (Attacus atlas) atau yang lebih dikenal dengan nama kupu-kupu gajah kepadaku. Kepompong itu merupakan kepompong pertama yang kemudian aku simpan dengan harapan nantinya aku bisa menyaksikan saat ngengat atlas-nya menetas.

Di daerah tempat tinggalku sekarang ini, desa Sukasirna di Jonggol, ngengat atlas ini dikenal dengan nama kupu-kupu kecapi karena baik ulat, kepompong maupun ngengat dewasanya biasanya banyak ditemukan di pohon-pohon kecapi. Ulatnya, yang biasa disebut dengan nama ulat keket, memakan daun-daun pohon kecapi tersebut ya.

Sekitar 3 bulan kemudian, pada tanggal 7 Juli 2013, kokon yang membungkus kepompong tersebut sempat aku potong sedikit pada bagian ujungnya agar aku dapat mengeluarkan dan melihat kepompongnya. Saat itu aku merasa penasaran dan mengira bahwa kepompong ngengat atlas tersebut telah mati karena sudah sampai sekitar 4 bulan aku simpan tetapi ternyata ngengat atlasnya belum juga menetas.

Ketika aku berhasil mengeluarkan dan melihat kepompongnya, ternyata kepompong ngengat atlas tersebut masih hidup. Ia menggerak-gerakan bagian bawahnya ketika aku menyentuhnya. Akhirnya aku pun memasukannya ke dalam kokonnya lagi dan menyimpannya kembali.


kepompong ngengat atlas (Attacus atlas)
Kepompong ngengat atlas (Attacus atlas) yang aku dapat dari seorang teman (kiri, atas), yang sudah aku simpan selama sekitar 3 bulan, akhirnya ujung kokonnya aku potong sedikit agar aku bisa memeriksanya. Ternyata kepompong dengan ukuran sekitar 5,5 x 2 cm itu masih hidup sehingga akhirnya aku simpan kembali (bawah).


Pada suatu malam minggu tanggal 31 Agustus 2013, hampir 2 bulan setelah aku memeriksa dan mengeluarkan kepompong ngengat atlas tersebut dari kokonnya, atau sekitar 5 bulan sejak dari pertama kepompong ngengat atlas itu aku simpan, saat aku sedang mengobrol dengan istri yang sedang mencuci piring pada sekitar jam 10 malam, tanpa sengaja aku melihat ke arah kepompong tersebut yang memang aku gantung di rak piring yang letaknya dekat dengan tempat mencuci piring. Saat itu aku melihat kepala ngengat atlas-nya sudah berada di luar kepompongnya.

Aku benar-benar terkejut saat itu dan juga merasa sangat gembira. Segera saja aku mengambil kamera dan memindahkan kepompong tersebut ke halaman belakang dan menggantungnya di pohon singkong, dekat dengan kepompong-kepompong ngengat atlas lainnya. Selama beberapa waktu kemudian, sampai lewat tengah malam, aku menghabiskan waktu dengan memperhatikan dan mengambil beberapa foto dari proses menetasnya ngengat atlas tersebut.

Baru kali ini aku bisa menyaksikan proses keluarnya ngengat atlas dari kepompongnya pada waktu yang cukup awal ya. Sudah beberapa kali sebelumnya beberapa ekor ngengat atlas menetas dari kepompong-kepompong yang aku simpan namun aku tidak sempat menyaksikan prosesnya dari awal. Aku hanya melihatnya saat mereka sudah berada di luar kepompongnya dan sedang mengembangkan sayap-sayapnya.

Sebenarnya saat itu aku sudah tidak berharap bahwa kepompongnya akan menetas karena beberapa waktu sebelumnya, ketika aku memeriksa kembali kepompong ngengat atlas yang sudah terpotong ujung kokonnya itu tersebut, ia sudah tidak bereaksi apa-apa lagi ketika aku sentuh atau pegang. Jadi saat itu aku mengira bahwa akhirnya kepompong tersebut telah mati. Tetapi walau begitu, aku tetap membiarkannya tergantung di rak piring sampai akhirnya ternyata ngengatnya menetas.


proses ngengat atlas (Attacus atlas) menetas
Akhirnya kepompong ngengat atlas yang telah aku simpan selama sekitar 5 bulan menetas juga. Isinya adalah seekor ngengat atlas jantan dengan ukuran rentang sayap sekitar 20 cm. Salah satu ciri dari ngengat jantan adalah ukuran antenanya yang lebih besar dibandingkan ukuran antena dari ngengat betina.


Ngengat atlas merupakan jenis ngengat yang dapat menghentikan untuk sementara proses pertumbuhannya pada masa kepompong untuk menunggu musim yang tepat untuk menetas. Hal ini dapat menjelaskan mengapa pada musim panas, masa kepompongnya bisa menjadi cukup panjang seperti halnya yang terjadi pada kepompong yang ngengatnya akhirnya menetas setelah kepompongnya aku simpan selama sekitar 5 bulan lamanya. Pada musim yang tepat, musim hujan, rentang masa kepompongya biasanya hanya sekitar 1 bulan saja ya.

Sehari sebelumnya, pada pagi hari tanggal 30 Agustus 2013, aku juga telah menemukan adanya seekor ngengat atlas yang telah menetas dari sebuah kepompong yang telah berumur sekitar 4 bulan. Sepertinya ngengat atlas tersebut menetas pada malam hari sebelumnya dari sebuah kepompong yang aku simpan dan gantungkan pada pohon singkong yang ada di halaman belakang.

Sebenarnya masih ada 2 kepompong lagi yang berumur sama, yaitu 4 bulan, namun hanya satu saja yang akhirnya ngengatnya menetas. 4 bulan sebelumnya, pada tanggal 18-20 April 2013, aku sempat menyaksikan saat ulat-ulatnya menjadi kepompong.

Ngengat atlas-nya sendiri, yang menetas sehari sebelumnya itu, merupakan ngengat jantan juga namun dengan ukuran yang lebih kecil dari ngengat atlas jantan yang lahir sehari kemudian. Rentang sayapnya hanya sekitar 18,5 cm. Ngengat atlas jantan tebesar yang pernah aku temui mempunyai ukuran rentang sayap sekitar 22 cm, sementara untuk ngengat atlas betina terbesar yang pernah aku temui mempunyai rentang sayap yang mencapai sekitar 24 cm. Ngengat atlas betina memang mempunyai ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan ngengat jantannya ya.


ulat keket, kepompong, dan ngengat atlas
3 ekor ulat ngengat atlas, atau yang dikenal dengan nama ulat keket, pernah aku jadikan oleh-oleh untuk si kecil Daisuki. Beberapa hari setelah itu, ternyata ketiga ulat tersebut malah menjadi kepompong. 4 bulan kemudian, seekor ngengat atlas jantan akhirnya menetas dari salah satu dari ketiga kepompong tersebut.


Lihat klasifikasi kupu-kupu gajah atau ngengat atlas.

No comments:

Post a Comment